Oleh: Maiton Gurik, S. I. Kom
(Mahasiswa Asal Tiom Kabupaten lanny Jaya Papua dan sedang Studi s2 Universitas Nasional Jakarta)
Politisi Bukan Profesi?
Kampus Universitas Nasional Jakarta, 01 Juli 2017
(Mahasiswa Asal Tiom Kabupaten lanny Jaya Papua dan sedang Studi s2 Universitas Nasional Jakarta)
MELIHAT dari perkembangan keadaan politik Papua saat ini, tampak gejala
ketidakadaan pemimpin politik. Pemimpin yang dibutuhkan adalah yang
mampu mengkonsolidasikan, mengorientasikan, dan mengartikulasikan arah
politik yang hendak dituju/dicapai. Pemimpin politik Papua itu bisa
menjadi representasi kehendak politik dan pemersatu dari
kelompok-kelompok politik yang ada di Papua. Selain itu ada yang bisa
menjadi elit pemerintah, baik di daerah maupun pusat, untuk bernegosiasi
dan kesepakatan politik dengan gagasan-gagasan baru.
Oleh karena
itu, pemimpin politik "ala big men" (pria berwibawa) yang berdiri
secara tunggal, seperti yang dikenal secara tradisional oleh suku-suku
di daerah pegunungan, tidak relevan lagi menghadapi tantangan baru di
Papua. Begitu pula dengan tipe kepemimpinan cara (raja-raja) “feodal"
yang dikenal oleh suku di wilayah pantai selatan di bagian barat dan
pantai utara, Papua.
Terobosan dan harapan baru di Papua akan
bisa berkecambah jika tersedia alamat bagi pemerintah pusat bernegosiasi
dan ada pihak di Papua yang menjaga proses dan hasil negosiasi itu.
Artinya, pemimpin politik adalah negosiator Papua yang legitimasi nya
kuat dan berpikir dalam ruang spasial regional serta geopolitik nasional
dan internasional.
Negara harus memberikan ruang bagi pemimpin-
pemimpin politik di Papua untuk tumbuh dan berkonsolidasi. Sebab,
situasi tanpa pemimpin, seperti yang terjadi saat ini, dalam jangka
panjang jauh lebih menjulitkan dan merugikan masyarakat Papua.
Idealnya, bagi seorang pemimpin politik itu dituntut untuk mampu
memanfaatkan berbagai sumber daya politik dalam rangka optimalisasi
kepentingan dan tujuan-tujuan politiknya. Oleh karena itu, secara
internal maupun eksternal, seorang pemimpin politik dituntut untuk mampu
berkomunikasi atau mengkomunikasikan kepentingan dan tujuan politik
tersebut secara tepat dan efektif.
Salah satu hal yang harus
dimiliki oleh aktivis politik adalah kemampuan untuk meyakinkan pihak
lain, sebagai bagian dari komunikasi politik secara luas. Politik itu
memang seni. Seni meyakinkan atau mempersuasi pihak lain, amat terkait
dengan seberapa jauh cara dan teknik lobi politik dimiliki atau
diimplementasikan secara tepat dan efisien. Tanpa adanya kemampuan lobi
politik secara profesional dan kualitas, maka sebuah pemerintah atau
para aktivis politik yang memiliki kepentingan politik tertentu, akan
terjebak pada suatu kondisi stagnasi bahkan marjinalisasi politik.
Konteks ini, politisi memang bukan profesi. Tetapi ia adalah orang yang
terpanggil untuk berpolitik, dan politiknya adalah untuk kesejahteraan.
Idealnya begitu. Tapi sayang kita kadang keliru melihat politik sebagai
sesuatu amat pragmatis, dimana politisi sekedar dimaknai sebagai semata
pekerjaan-pekerjaan dibidang politik!
Dengan demikian apa yang
dikatakan, Deliar Noer bahwa, "politik adalah segala aktivitas atau
sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk
mempengaruhi, jalan mengubah atau mempertahankan, suatu macam bentuk
susunan masyarakat". Makanya, begitu keran keterbukaan politik terbuka,
berlomba-lomba orang "mencari pekerjaan" sebagai politisi. Ironisnya
bukan panggilan mulia yang menjadi motif penggerak, tetapi lebih ke
motif pragmatis, sampai -sampai pernah ada politisi yang berujar "kalau
mau kaya, jadilah politisi!" Betapa berpolitik telah diredukasi
semata-mata untuk mengejar kekayaan dan perlindungan diri.
Menjadi politisi seharusnya didasari keterpanggilan. Itulah yang
menyebabkan seorang pengusaha, seperti Ahok berkiprah didunia politik.
Juga Megawati yang ibu rumah tangga, Wiranto, SBY atau Prabowo yang
tentara. Adburrahman wahid yang aktivis ormas dan LSM, hingga Jussuf
Kalla yang saudagar. Kalau para politisi berlatar belakang berbeda-beda
itu berada dalam puncak kekuasaan, perilaku dan kebijaksanaan lah yang
akan dinilai masyarakat.
Politisi itu pengabdi. Artinya, dari
sini kita harus diakui, secara umum ada keunggulan sarjana dibanding
dengan yang bukan, tetapi bukan berarti menghadapkan kepintaran versus
kebodohan. Namun, hanya karena berpolitik merupakan hak setiap orang
(warga negara). Jadi, dunia politik ialah dunia yang terbuka bagi
berbagai macam profesi, mengingat politik adalah panggilan. Politisi itu
bukan profesi yang orientasinya menumpuk uang dan kekuasaan. Menjadi
politisi yang "berkuasa" adalah tujuan antara untuk mensejahtrakan
rakyat. Tetapi kalau politisi yang sedang berkuasa, maka ia harus mampu
memainkan peran yang baik dalam fungsi demokrasi yang disebut "check and
balances" (saling mengawasi). Memang tujuan politik adalah kekuasaan,
tetapi ingat kekuasaan adalah "tujuan antara" saja. Kita kwatir kemudian
kecenderungan yang berkembang adalah menjadikan kekuasaan sebagai
tujuan utama. Partai lantas menjadi sarang para oligarkhis, yang secara
korporatis menjadi mesin pelindung para penyamun dan mengembangbiak
para nepotis.
Akhir kata penulis pinjam dari kutipan Lao Tzu,
pernah berkata "Seorang pemimpin yang terbaik adalah ketika orang hampir
tidak tahu dia ada, saat pekerjaannya dilakukan, tujuannya pun
terpenuhi, ia akan mengatakan: kita melakukan nya bersama-sama."
Harapan itu pun pada Pilgub Papua 2018 mendatang, semoga masyarakat
memilih pemimpin politik yang mampu mengabdi kepada masyarakat nya dan
bukan sebatas pemimpin politik biasa atau politisi profesi sebagai
tujuan personal semata lalu terabaikan tujuan politiknya sebagai suatu
pekerjaan panggilan. Begitu Semoga!