Oleh: Maiton Gurik
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta)
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta)
Sejarah mengalami sejumlah persoalan.
Sejarah adalah fakta dan fakta itu sejarah. Sejarah bukan teori dan
metodologi yang tak dapat berkembang dalam kehidupan manusia. Namun,
sejarah lebih utama ketiadaan ruang yang dapat masukan untuk melakukan
yang terlupakan. Memecahkan persoalan kekinian yang di hadapi Rakyat
Papua.
Sejarah penderitaan rakyat Papua adalah
kemenangan militerisme politik negara. Militerisme politik dipelihara.
Penindasan liar dibiarkan. Aparat pemerintahan menikmati pungutan liar
secara tak langsung. Dalam konflik horizontal pemerintah hanya bertindak
sebagai pemadam kebakaran. Negara gagal memberi ruang demokrasi bagi
rakyat Papua.
Dalam Visi Syahrir, Indonesia perlu
revolusi ke dalam dengan mengembangkan demokrasi dan kemanusiaan. Rakyat
memiliki kedudukan yang kuat dalam negara. Hak asasi dicantumkan dalam
konstitusi. Kemerdekaan berpikir, berbicara, menulis, beragama, dan
berserikat. Hak untuk mendapatkan penghidupan layak dalam kostitusi. Hak
untuk memilih dan dipilih dalam suatu bangsa dan negara ada pun di
konstitusi.’ Kostitusi jelas.
Papua mencari identitas diri untuk
membenarkan bahwa mereka adalah etnis atau suku bangsa yang berbeda dari
induknya. Banyak bangsa satu titik sejarah berhasil memerdekakan diri
dari imperealisme-kapitalisme. Diskriminasi pendidikan pun itu seperti
era kolonial. Sejarah hanya melihat sebagai satu kajian masa lalu tanpa
mencoba mencari relevansinya masa kini. Akhirnya sejarah dianggap
sebagai cacatan untuk kepentingan seseorang, sehingga hasilnya tidak
dapat menyelesaikan persoalan kekinian yang dihadapi oleh rakyat Papua.
Sejarah Lokal dan Nasional
Garapan sejarah lokal, secara filosof,
tentu bukan bertujuan untuk membuat indentitas. Sejerah kelokalan
menjadi semakin mengeras, melainkan bagaimana kelokalan itu jadi penting
untuk membangun sejarah nasional.
Kelokalan bukanlah kajian identitas.
Yang pada akhirnya mengabaikan sejarah. Kelokalan itu bukanlah pencarian
identitas untuk membuat menghimpit sejarah. Sejarah kelokalan itu
menyadarkan bahwa kita ada dan memperjuangkan karena sejarah yang belum
terlihat dan terungkap. Sejarah adalah persoalan ruang yang tak
berakhir. Sejarah harus saling mengingatkan sesama anak bangsa. Sejarah
terus menerus berproses pada akhirnya, menjadi sebuah sejarah nasional
untuk suatu bangsa. Rakyatsedang mengejar sejarah.
Kutip dari kata Bung Karno “jangan
sekali-kali melupakan sejarah”. Hal yang sama pinjam dari kutipan
bukunya Sofyan Yoman bahwa“di tanah Papua sekarang, rakyat dan bangsa
Papua Barat sedang berbicara dengan kekuatan kebenaran sejarahnya
sendiri.
Negara Papua sudah terbentuk pada 1
Desember 1961? Jangan lupa sejarah ini, pada saat pembukaan Dewan New
Guinea Raad “( Parlemen Rakyat Papua), dapat dihadiri oleh wakil-wakil
pemerintah Inggris, Perancis dan Australia, sementara gubernur Papua
Australia juga hadir. Amerika Serikat memberitahukan pembatalannya.
Politik internasional membayang-bayangi kegiatan dewan sejak hari
pertama eksistensinya” (Baca: P.J.Drooglever, Tindakan Pilihan Bebas, Orang Papua dan Penentukan Nasib Sendiri, 2005, hal.549).
Sambung dari kutipan Sofyan Yoman dalam
bukunya, “Ir. Soekarno pendiri negara Republik Indonesia sendiri telah
mengakui, ada sebuah negara yang harus dibubarkan. Tindakan ini sangat
berlawanan dengan semangat pembukaan Mukadimah UUD 1945 yang menyatakan :
“ Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa oleh sebab
itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai
dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan.”
Dan juga harus ingat pengakuan jujur dan
tulus dari Bapak Mohammad Hatta. “Secara pribadi ingin saya menyatakan
bahwa bagi saya masalah Irian Barat (sekarang: Papua) tidak perlu
dipersoalkan. Saya tahu bahwa bangsa Papua pun berhak menjadi bangsa
yang merdeka”. (Risalah Badan Persiapan Untuk Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, BPUPKI, Edisi, 4 1998).
Keadaan yang demikian, seoalah-olah
negara melupakan sejarah. Jalan Papua adalah revolusi kebebasan,
revolusi ke dalam. Bukan membenturkan pendatang dan asli pribumi, juga
bukan pengadilan rakyat, tetapi merdeka dari kultur sejarah, kultur
kekerasan dan kultur ketidakadilan. Rakyat ingin kembali berada diatas
fondasi sejarah.
Mengabaikan cacatan SEJARAH ibarat
mengerjakan sesuatu dimulai dari titik nol, tanpa menyadari bahwa
sejarah adalah gudang informasi, gudang fakta yang sedang mengejar untuk
membangun dan membentuk suatu bangsa. Jangan-jangan negara sengaja atau
memang negara sudah melupakan sejarah. Revolusi sejarah belum selesai.
Sumber:
Tulisan artikel saya ini pernah muat di media online dan cetak: http://bintangpapua.com/papua-negara-melupakan-sejarah/