Tuesday, 28 June 2016

"Papua, Negara Melupakan Sejarah"

Oleh: Maiton Gurik
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta)

Sejarah mengalami sejumlah persoalan. Sejarah adalah fakta dan fakta itu sejarah. Sejarah bukan teori dan metodologi yang tak dapat berkembang dalam kehidupan manusia. Namun, sejarah lebih utama ketiadaan ruang yang dapat masukan untuk melakukan yang terlupakan. Memecahkan persoalan kekinian yang di hadapi Rakyat Papua.

Sejarah penderitaan rakyat Papua adalah kemenangan militerisme politik negara. Militerisme politik dipelihara. Penindasan liar dibiarkan. Aparat pemerintahan menikmati pungutan liar secara tak langsung. Dalam konflik horizontal pemerintah hanya bertindak sebagai pemadam kebakaran. Negara gagal memberi ruang demokrasi bagi rakyat Papua.

Dalam Visi Syahrir, Indonesia perlu revolusi ke dalam dengan mengembangkan demokrasi dan kemanusiaan. Rakyat memiliki kedudukan yang kuat dalam negara. Hak asasi dicantumkan dalam konstitusi. Kemerdekaan berpikir, berbicara, menulis, beragama, dan berserikat. Hak untuk mendapatkan penghidupan layak dalam kostitusi. Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu bangsa dan negara ada pun di konstitusi.’ Kostitusi jelas.

Papua mencari identitas diri untuk membenarkan bahwa mereka adalah etnis atau suku bangsa yang berbeda dari induknya. Banyak bangsa satu titik sejarah berhasil memerdekakan diri dari imperealisme-kapitalisme. Diskriminasi pendidikan pun itu seperti era kolonial. Sejarah hanya melihat sebagai satu kajian masa lalu tanpa mencoba mencari relevansinya masa kini. Akhirnya sejarah dianggap sebagai cacatan untuk kepentingan seseorang, sehingga hasilnya tidak dapat menyelesaikan persoalan kekinian yang dihadapi oleh rakyat Papua.

Sejarah Lokal dan Nasional
Garapan sejarah lokal, secara filosof, tentu bukan bertujuan untuk membuat indentitas. Sejerah kelokalan menjadi semakin mengeras, melainkan bagaimana kelokalan itu jadi penting untuk membangun sejarah nasional.

Kelokalan bukanlah kajian identitas. Yang pada akhirnya mengabaikan sejarah. Kelokalan itu bukanlah pencarian identitas untuk membuat menghimpit sejarah. Sejarah kelokalan itu menyadarkan bahwa kita ada dan memperjuangkan karena sejarah yang belum terlihat dan terungkap. Sejarah adalah persoalan ruang yang tak berakhir. Sejarah harus saling mengingatkan sesama anak bangsa. Sejarah terus menerus berproses pada akhirnya, menjadi sebuah sejarah nasional untuk suatu bangsa. Rakyatsedang mengejar sejarah.

Kutip dari kata Bung Karno “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Hal yang sama pinjam dari kutipan bukunya Sofyan Yoman bahwa“di tanah Papua sekarang, rakyat dan bangsa Papua Barat sedang berbicara dengan kekuatan kebenaran sejarahnya sendiri.

Negara Papua sudah terbentuk pada 1 Desember 1961? Jangan lupa sejarah ini, pada saat pembukaan Dewan New Guinea Raad “( Parlemen Rakyat Papua), dapat dihadiri oleh wakil-wakil pemerintah Inggris, Perancis dan Australia, sementara gubernur Papua Australia juga hadir. Amerika Serikat memberitahukan pembatalannya. Politik internasional membayang-bayangi kegiatan dewan sejak hari pertama eksistensinya” (Baca: P.J.Drooglever, Tindakan Pilihan Bebas, Orang Papua dan Penentukan Nasib Sendiri, 2005, hal.549).

Sambung dari kutipan Sofyan Yoman dalam bukunya, “Ir. Soekarno pendiri negara Republik Indonesia sendiri telah mengakui, ada sebuah negara yang harus dibubarkan. Tindakan ini sangat berlawanan dengan semangat pembukaan Mukadimah UUD 1945 yang menyatakan : “ Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan perikeadilan.”

Dan juga harus ingat pengakuan jujur dan tulus dari Bapak Mohammad Hatta. “Secara pribadi ingin saya menyatakan bahwa bagi saya masalah Irian Barat (sekarang: Papua) tidak perlu dipersoalkan. Saya tahu bahwa bangsa Papua pun berhak menjadi bangsa yang merdeka”. (Risalah Badan Persiapan Untuk Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, BPUPKI, Edisi, 4 1998).

Keadaan yang demikian, seoalah-olah negara melupakan sejarah. Jalan Papua adalah revolusi kebebasan, revolusi ke dalam. Bukan membenturkan pendatang dan asli pribumi, juga bukan pengadilan rakyat, tetapi merdeka dari kultur sejarah, kultur kekerasan dan kultur ketidakadilan. Rakyat ingin kembali berada diatas fondasi sejarah.

Mengabaikan cacatan SEJARAH ibarat mengerjakan sesuatu dimulai dari titik nol, tanpa menyadari bahwa sejarah adalah gudang informasi, gudang fakta yang sedang mengejar untuk membangun dan membentuk suatu bangsa. Jangan-jangan negara sengaja atau memang negara sudah melupakan sejarah. Revolusi sejarah belum selesai. 

Sumber:
Tulisan artikel saya ini pernah muat di media online dan cetak:  http://bintangpapua.com/papua-negara-melupakan-sejarah/

Tuesday, 21 June 2016

"Pemuda Papua Bersatulah"

Oleh: Maiton Gurik
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta)


“Membakar semangat bagi Pemuda Papua, agar mereka tahu bagaimana seharusnya mereka menjadi Pemuda Papua yang berbobot, dan untuk apa mereka menggunakan bobot intelektualitas itu untuk menolong Papua”.

Fenomena peran pemuda dalam dunia, pernah digambarkan oleh Tom Mboya, mantan menteri Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Republik Kenya di depan kongres ISC, dengan menyatakan bahwa: “Pemuda dunia memainkan peranan penting dalam kehidupan ini dan sesuatu yang tak dapat dilakukan. Di tangan generasi muda itu terletak tujuan berjuta-juta rakyat di dunia. Oleh karena itu, universitas bukanlah tempat mengeluarkan resolusi-resolusi, melainkan tempat melatih anak-anak muda dan mempersiapkan mereka dengan tujuan membuat dunia sebagai tempat yang lebih baik dalam kehidupan ini. Generasi muda harus mengarap tantangan modern. Anda sebagi generasi muda negara-negara yang baru akan menghadapi tanggung jawab yang besar pada saat meninggalkan universitas dan pada saat memangku jabatan yang pertama”.

Mantan wakil Presiden Indonesia, Adam Malik, sebagaimana dikutip oleh Yozar Anwar (1981:239) juga pernah berkata: “Hati setiap pemuda mengenal keinginan dan keputusan, yang tak dapat diajak hanya dengan ukuran-ukuran rasional. Di lain pihak, pemuda selalu dibakar oleh cita-cita dan idealisme yang tinggi-tinggi. Mereka lincah, sigap dan suka meledak karena penuh vitalitas. Mereka tenggelam dalam semangat “tak mengenal mati”, dan untuk membuktikan semangat itu mereka mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan yang ekstrem”.
Kedua pernyataan di atas cukuplah menggambarkan bahwa tidak ada sejarah perubahan di setiap jengkal bumi Tuhan ini, di seluruh belahan negara-negara dunia terutama negara-negara yang mengalami gerakan revolusi seperti Prancis, Inggris, Italia, Cuba dan Indonesia tentunya, yang luput dari peran pemuda.
Pemuda selalu berada di garda paling depan dalam era perubahan. Karenanya, adalah suatu hal yang mustahil bila setiap perubahan besar yang tanpa ada peran pemuda.
Papua adalah negeri yang indah dan kaya, yang tengah sakit, membebaskan Papua dari derita panjangnya tidak cukup hanya dengan mengenali penyakitnya saja, tanpa mencari dan menemukan obatnya, tidak bisa pula hanya bermodal keinginan untuk menolong Papua, tapi sang penolong dan pembebasnya tidak memiliki kemapanan diri dan semangat persatuan yang berkobar-kobar, sebab itulah modal yang harus dimiliki oleh para penolong dan pembaharu Papua.

Pemuda Papua merupakan salah satu komponen penting yang sangat menentukan arah pembangunan Papua ke depan, bentuk dan pola gerakan pembaharuan bumi Papua, serta masa depan Papua dengan NKRI tentu sangat ditentukan oleh peran pemuda Papua. Apapun rumusnya, tetap dalam bingkai NKRI atau lepas dari NKRI, Papua sepenuhnya ada pada nadi dan semangat tarung para pemudanya. Tentu pemuda Papua yang mampu melakukan itu adalah pemuda Papua yang berkualitas, kritis, berani dan intelektual, bukan pemuda Papua recehan, bukan pemuda Papua kacangan, bukan pemuda Papua karbitan, yang hanya foya-foya dan enggan untuk belajar dan menempa dirinya menjadi berkualitas. Tetapi pemuda Papua yang berkualitas tinggi, sehingga tidak gagap konsep dalam menawarkan gagasan-gagasan progresif, bahkan radikal dalam perubahan Papua.

Papua butuh ratusan bahkan ribuan pemuda yang sadar akan tanggung jawab perubahan itu, Papua butuh ratusanbahkan ribuan pemuda yang mampu membantu perjuangan Lukas Enembe, Freddy Numberi, Socrates Sofyan Yoman, Buchtar Tabuni, Yunus Wonda, Timotius Murib, Victor Yeimo bahkan martir-martir Papua lainnya yang mengangkat dan membebaskan Papua dari ketertinggalan, dari penindasan dan ketidakadilan yang berkepanjangan.

Artikel ini ditulis, sebagai dedikasi untuk bumi Papua, sekaligus sebagai pembakar semangat bagi pemuda Papua, agar mereka tahu bagaimana seharusnya mereka menjadi pemuda Papua yang berbobot, dan untuk apa mereka menggunakan bobot intelektualitas itu dalam menolong Papua.
Diramu secara apik dalam 2-3 halaman, artikel ini sejatinya adalah spirit sekaligus pemandu bagi para pemuda Papua yang hendak menemukan jati dirinya sebagai pejuang, yang harus mempersiapkan diri secara matang, untuk sebuah gerakan yang lebih berarti dan memberikan dampak besar. Semua itu, harus diawali dari kesadaran bersama untuk berjuang bersama demi negeri bersama Papua, bumi Melanesia-Cenderawasih yang kita cintai.

Sumber:
Tulisan Artikel saya ini pernah muat di media online dan cetak:  http://suarapapua.com/2016/06/21/pemuda-papua-bersatulah/