Thursday, 21 January 2016

Stok Pemimpin

Oleh: M Alfan Alfian, Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta

Dalam diskusi “Refleksi Kepemimpinan Bangsa ke Depan” oleh Akbar Tandjung Institute beberapa hari lalu, Guru Besar Psikologi Politik Prof. Dr. Hamdi Muluk menegaskan, sesungguhnya Indonesia tidak kekurangan stok pemimpin. Banyak pemimpin yang hadir di berbagai bidang kehidupan. Namun, untuk menjadi pemimpin nasional, harus melalui mekanisme politik yang tidak mudah. Seorang Chief Executives Organization (CEO) adalah pemimpin puncak perusahaan, tetapi, kalau mau jadi pemimpin nasional, maksudnya presiden atau wakil presiden, ia harus melalui proses politik sebagai kawah Candradimukanya. Dan politik, punya logikanya tersendiri. Demikian juga dengan pemimpin, atau kelihatannya lebih tepat elite bidang-bidang lainnya.
Prof. Hamdi juga mengingatkan bahwa mestinya, pemimpin nasional kita berlevel negarawan. Ialah yang selesai dengan urusan-urusan “basic need” dalam psikologi Abraham Maslow. Ia yang punya visi dan fokus pada hal-hal di luar urusan kepentingan mengejar materi dan kemapanan hidup. Dan, politik dan aneka pengalaman jabatan publik menempa orang untuk menjadi negarawan. Pertanyaan segera muncul, mengapa sepertinya soal negarawan itu ada di awang-awang? Atau mengapa banyak yang tak kunjung negarawan? Atau mengapa yang kita kira, atau katakan, kita nilai negarawan peluangnya untuk menjadi pemimpin nasional justru susah, kalau bukan tertutup? Tampaknya, jawaban yang terakhir ini ada dua versi yang sekaligus melengkapi. Pertama, sistem suksesi kepemimpinan nasional kita yang dimonopoli sepenuhnya oleh partai politik. Padahal, partai politik kita belum bisa menjamin sistem baik bekerja efektif di internalnya. Oligarkhi partai, membuat kegegabahan sering terjadi, yakni enggan membuka diri secara demokratis melakukan proses penjaringan kadidat yang bermutu dan objektif.
Kedua, lebih kepada konsekuensi demokrasi langsung. Bahwa, jangankan Rhoma Irama, sedangkan kata Cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur) tempo dulu, “Setan Gundul” pun bisa berpeluang terpilih dalam pemilihan langsung. Demokrasi langsung, membuka pintu lebar bagi bukan, apa yang dikatakan Prof Hamdi di atas, negarawan, tetapi pemimpin-pemimpin kelas politisi atau bahkan yang tidak begitu mengerti dunia politik. Rakyat, sayangnya, banyak yang tidak paham dan tidak peduli dengan hal-hal yang menjadi kegelisahan para intelektual dan akademisi kampus, bahwa apa yang ditawarkan partai-partai ialah yang “row input”, yang serampangan saja, yang gradasi kenegarawanannya jauh di bawah.
Demokrasi memberi ruang dan peluang yang sama antara profesor dan orang awam yang “tidak pernah makan sekolahan”. Karena itulah, dulu Plato pernah mengkritik habis demokrasi egalitarian seperti itu, dan memposisikan kaum filosof cerdik pandai ke dalam kelas tersendiri yang eksklusif dalam proses politik. Kendatipun demikian, pilihan sudah diambil, demokrasi langsunglah yang akan kita praktikkan dalam memilih pemimpin nasional. “Civil society” harus lebih proaktif lagi untuk menghadirkan referensi bagi calon-calon pemimpin yang layak. Partai-partai juga tidak boleh menutup diri. Kalau tidak, selamanya kita akan membiarkan kondisi “by accident” terus terjadi dalam pergantian pemimpin.**
Sumber : http://alfanalfian.blogspot.co.id/ (diakses pada tanggal 21 Januari 2016-Jakarta)